Sejarah Singkat

 Perkembangan dan Hambatan Pembentukan Tamansiswa 

 

Jika pada waktu berdirinya 14 Juli 1029 Tamansiswa Cabang Jakarta hanya menyelenggarakan Taman Muda dan Taman Guru, maka pada tanggal 16 Juli 1933 dibuka Taman Dewasa Raya, suatu sekolah menengah lima tahun setelah Taman Muda (SD). Pada tahun 1934 Tamansiswa Jatinegara, Tanah Abang dan Sawah Besar melepaskan diri dari Cabang Jakarta dan berdiri sendiri - sendiri. 

Pada zaman pendudukan Jepang dimana Pemerintah Jepang melarang sekolah swasta untuk menyelenggarakan sekolah menengah dan sekolah guru, maka Tamansiswa Cabang Jakarta hanya membuka Taman Muda dan kursus bahasa Jepang. Pada waktu itu Tamansiswa Cabang Jakarta dipimpin oleh Ki Sukamto, yang kemudian diteruskan oleh Ki. Moh Said Reksohadiprojo. Sekolahnya mengambil tempat di Jl. Kadiman (sekarang JL. Gunung Sahari IV), yang kemudian pindah ke Jl. Garuda 25, karena tempat semula dipakai oleh Angkatan Laut Jepang (sekarang MBAL).  

Setelah Indonesia merdeka, di awal masa revolusi, Tamansiswa menyelenggarakan pendidikan di Kebon Kosong, Kepu Dalam Gang IV (PMR), Kepu Selatan, Kampung Kepu dan Bungur, selain di Jl. Garuda 25, yang terdiri atas Taman Indria, Taman Anak, dan Taman Muda dengan pamongnya antara lain, Nyi  Sri Fatimah Saliman, Nyi Anindiati Sulasikin Murpratomo, Nyi Sudarsih Naryo, Nyi Suharsini, Nyi Marsidah dan Nyi Suwarti. 

Guna memperluas tempat belajar, Tamansiswa Cabang Jakarta membeli beberapa rumah dan tanah, antara lain Jalan Garuda 44 di tahun 1950, Sunter Gedong Rubuh di tahun 1951, 2 persil di Jalan Kemayoran Gempol tahu 1952, Jalan Garuda 27 untuk disatukan dengan Garuda 25 pada tahun 1954 dan Pondok Bandung di Bendungan Jago pada tahun 1956. Kecuali yang di Pondok Bandung, di tempat - tempat tersebut dibangun ruangan - ruangan tempat belajar, walaupun dengan kondisi darurat. 

Pada masa revolusi antara tahun 1947-1949, oleh para pejuang Tamansiswa Cabang Jakarta dijadikan tempat berjuang dan berlindung, disamping turut mengajar sebagai pamong, mereka juga sebagai gerilyawan bergelilya melawan Belanda (NICA). Pelukis Affandi beserta keluarganya dan Penyair Chairil Anwar, juga masih banyak lagi pelukis/seniman lainnya pernah bertempat tinggal di Jalan Garuda 25. Pada saat itu Tamansiswa Cabang Jakarta diberi julukan "Benteng Republik terakhir", karena di kala hampir seluruh Jakarta diduduki NICA, Tamansiswa Jalan Garuda 25 masih mengibarkan bendera Sang Merah Putih. 

Pada 10 November 1948 Tamansiwa Cabang Jakarta menambah bagian pendidikannya dengan membuka Taman Madya, yang karena terbatasnya ruang beajar, diadakan pada siang/malam hari. Dalam buku "30 Tahun Tamansiswa" terbitan Majelis Luhur Tamansiswa, pada tahun 1952 keadaan siswa, pamong dan kelas di Tamansiswa Cabang Jakarta adalah sebagai berikut :

  1. Taman Indria 162 siswa dengan 3 pamong di 6 kelas 
  2. Taman Muda 2.433 siswa dengan 27 pamong di 24 kelas
  3. Taman Dewasa 600 siswa dengan 28 pamong di 12 kelas
  4. Taman Madya 623 siswa dengan 64 pamong di 15 kelas

Hidup itu kata orang ibarat roda peadti, kadang - kadang naik ke atas untuk turun kembali ke bawah, naik ke tengah dan seterusnya. Perguruan Tamansiswa Cabang Jakarta pun dengan berbagai cobaan tidak terhindar dari turun naikknya kehidupan ini. Pada tahun 1934 pernah terjadi perselisihan paham antara Pimpinan dan para pamong yang mengakibatkan tidak saja 22 orang pamong meninggalkan Tamansiswa Cabang Jakarta, tetapi juga Tamansiswa Jatinegara, Tanah Abang, dan Sawah Besar di bawah asuhan mereka turut melepaskan diri. 

Pada tahun 1960 - 1964 terjadi peristiwa hampir serupa, dimana sebagian pamong - pamong muda yang belum mantap manghayati demokarsi "met leiderschap" tidak menyetujui kebijaksanaan kepemimpinan Ki Moh Said, karena pengaruh demokrasi terpimpim yang berlaku di zaman Orde Lama. Timbullah polemik yang berkepanjangan yang mengakibatkan beberapa pamong muda terpaksa meninggalkan Tamansiswa Cabang Jakarta. Belum lagi sempat keadaan tersebut dapat diatasi, timbullah tragedi nasional G30S/PKI. Banyak siswa - siswa khususnya Taman Dewasa dan Taman Madya, setiap hari turun ke jalan bergabung dengan Panitia Aksi yang menuntut dibubarkannya PKI, yang mengakibatkan lehiatan sekolah terganggu dan keadaan keuangan Perguruan pun dangat menderita. 

Sementara itu di tahun 1966 gedung Tamansiswa di Jalan Bungur Besar diminta kembali oleh pemiliknya, begitu pula yang ada di Jalan Garuda 66 pada tahu 1976. Bagian Taman Anak di Sunter terpaksa ditutup, karena banyak siswanya yang pindah ke sekolah negeri yang dibangun lebih baik di dekatnya. Berkas keuletan Ki Moh Said sebagai Ketua Cabang, situasi dapat berangsur - angsur dapat dipulihkan. Mulai tahun 1967 dibentuk Majelis Cabang Sementara, dan tahun 1968 dinyatakan sebagai tahun permulaan "membangun kembali Tamansiswa Cabang Jakarta". 

Dalam perkembangan selanjutnya, sejak tahun 1966 dibuka Taman Madya pagi, dan berangsur - angsur Taman Madya sian disatukan dengan Taman Madya pagi. Taman Madya Karya Ekonomi dibuka pada tahun 1971 dan Taman Karya Madya Teknik dibuka tahun 1976. Sarana prasarana pendidikan berangsur - angsur ditingkatkan. Berkat bantuan Gubernur Ali Sadikin, gedung Taman Muda Jalan Garuda 25 sebanyak 12 lokal dengan kondisi semi permanen, telah direhabilitasi secara total menjadi gedung berlantai 2 dengan 20 ruang belajar. Gedung ini kemudian ditempati bagian Taman Dewasa dan Taman Madya mulai tahun 1975. Sebagai gantinya untuk Taman Muda oleh pemda DKI telah dibangun gedung untuk satu unit SD pada tahun 1976 di Jalan Garuda 27, yang menjadi satu dengan Garuda 25. Aula di jalan Garuda 25 yang dalam keadaan sangat sederhana telah kami bangun menjadi Balai Wiyata dengan ukuran 7 x 38 m dengan kondisi permanen. Demikian pula dua rumah tua yang rapuh di Jalan Kemayoran Gempol, pada tahun 1977 direhabilitasi menjadi gedung permanen dengan enam ruangan kelas dan satu unit rumah tempat tinggal pamong berukuran 6 x 9 m. 

Pada tahun 1980 Tamansiswa Cabang Jakarta merehabilitasi perumahan pamong di Jalan Garuda 25 paviliun Barat menjadi bangunan berlantai dua dengan lima ruang belajar dan satu ruang laboratorium. Pada tahun 1984, Pemda DKI membantu menambah dua ruang belajar di Kemayora Gempol. Pada tahun 1985/1986 gedung semi permanen di Jalan Garuda 44 direhabiltasi total menjadi gedung berlantai tiga, dengan 15 ruang belajar, 1 unit rumah pamong, dan tiga ruang praktek dengan ukuran masing - masing 14 x 10 m. Pembangunan gedung yang digunakan oleh Taman Karya Madya Ekonomi dan Teknik ini, sebagian dananya kami dapat dari Pemda DKI dan peresmiannya pun dilakukan oleh Bapak Gubernur Wiyogo Atmodarminto. 

Selama 17 tahun terakhir sejak tahun 1972, papan statistik keadaan siswa Tamansiswa Cabang Jakarta menunjukkan, bahwa jumlah siswa keseluruhan meningkat dari 2.433 menjadi 4.102 orang. Beberapa bagian pendidikan menurun jumlah siswanya dan beberapa bagian lagi naik jumlahnya. Taman Indria merosot dari 126 menjadi 71, Taman Muda dari 1.394 merosot menjadi 421, Taman Dewasa dari 533 naik sampai 1.213 di tahun 1985, tetapi turun lagi menjadi 637 siswa, Taman Madya dari 254 menanjak curam menjadi 1.717 siswa, Taman Karya Madya Ekonomi dari 26 naik mantap menjadi 759 siswa,dan Taman Karya Madya Teknik dari 27 siswa di tahun 1976 naik turun kemudian naik lagi mencapai angka 497 orang siswa di tahun 1989 ini. 

Di samping pendidikan formal seperti tersebut di atas, Tamansiswa Cabang Jakarta juga menyelenggarakan pendidikan informal dan nonformal. Pendidikan infomal diwujudkan melalui kegiatan - kegiatan Pramuka, Palang Merah Remaja, Persatuan Pelajar Tamansiswa dan keterampilan lainnya. Pendidikan nonformal diwujudkan berupa berbagai macam kursus. 

 

Tugas Membantu Persatuan Tamansiswa

 

Menyadari tempatnya yang terletak di ibukota negara, maka sejak berdirinya sampai sekarang Tamansiswa Cabang Jakarta selalu membantu tugas - tugas Persatuan, khususnya di Ibukota Negara. Pada usia sewindu, tanggal 16 - 19 Juli 1937 Tamansiswa Cabang Jakarta menyelenggarakan Konferensi Tamansiswa se-Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Pada tanggal 15 - 19 Oktober 1941, Tamansiswa Cabang Jakarta menjadi tempat diselenggarakannya Rapat Besar VII, yang membicarakan tentang pelajaran bahasa Indonesia. Dalam susunan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ketua Tamansiswa Ki S Mangoensarkoro tercatat empat kali duduk sebagai Anggota Majelis Luhur, mulai tahun 1938 sampai tahun 1949, dan pada Kongres Tamansiswa VIII tahun 1947 beliau duduk di dalam Panitia Penyusunan Dasar - Dasar Tamansiswa, yaitu PANCADARMA. Ki Moh Said, Ketua Cabang ketiga, duduk dalam susunan Majelis Luhur sejak tahun 1950 sampai dengan tahun 1970, dan pada Kongres XII tahun 1971 beliau ditetapkan sebagai Pinisepuh Persatuan Tamansiswa. 

Pada masa perang kemerdekaan tahun antara tahun 1947 - 1949, di Jakarta dibentuk Konsultan Majelis Luhur dengan ketuanya Ki Imam Sukemi dan Panitera seta anggotanya masing - masing Ki Moh Said, Ki Angronsudirdjo dan Ki Basiroen, tiga orang yang terakhir dari Tamansiswa Cabang Jakarta. Konsultan Majelis Luhur tersebut, selanjutnya menjadi Perwakilan Majelis Luhur di Jakarta, dengan ketuanya berturut - turut Ki Moh Said, Ki Urip Supeno, Ki Tugiman Sumohardjo, dan sekarang Ki Soenarno Hd, semuanya dari Tamansiswa Cabang Jakarta. Jabatan Pembimbing Tamansiswa Daerah Jawa Barat dan Jakarta Raya, sejak tahun 1966 hingga sekarang dijabat Ki Tugiman Sumohardjo dari Tamansiswa Cabang Jakarta, yang sebelumnya dijabat oleh Ki Sutarto dari Cabang Sukabumi.

Di samping duduk di badan - badan pimpinan Persatuan, Pimpinan Tamansiswa Cabang Jakarta juga turut aktif membantu pembinaan Cabang - cabang Tamansiswa disekitarnya, misalnya Cabang Rawamangun, Cabang Jatinegara, Cabang Kebayoran Baru, bahkan Cabang Sukabumi dan Cabang Bandung. Pada masa - masa Kongres yang diselenggarakan di Yogyakarta, Tamansiswa Cabang Jakarta menjadi tempat transit bagi para utusan Cabang - cabang, khususnya dari Sumatera baik waktu pergi maupun pulangnya, sehinggga membuat Cabang Jakarta lebih dewasa dan menuntut para anggotanya untuk lebih mendalami masalah - masalah ke-Tamansiswa-an. Ki Moh Said mengatakan Tamansiswa Cabang Jakarta sebagai "moral force" dan "voor post", bahkan diharapkan agar menjadi pusat kebudayaan bagi maskarakat sekitarnya. 

 

Profil Taman Dewasa 

oleh Ki Hendro Widodo

 

Setelah ditutup sebentar pada masa pendudukan Jepang, maka dibuka kembali pada tahun 1945 bertempat di Jalan Garuda 25. Dengan menempati ruang aula yang berdinding seng, siswa Taman Dewasa tiap tahun semakin bertambah. Pamong - pamong yang mengajar pada sekitar 1946 -1950 antara lain Ki Abu Rachmat, Ki Roesman Sutia Sumarga, Ki Handriyo, Ki Hadi Asmoro. Selanjutnya seiring dengan perkembangan jumlah ssiswa, dan rombongan kelas pamong - pamong itu bertambah, utamanya dari tamatan Taman Guru. 

Karena masih jarangnya SLTP Negeri dan Swasta di Jakarta maka siswa Taman Dewasa tahun 1950  - 1975 sangat banyak. Mereka datang dari Jakarta Selatan, Barat, Utaran dan Timur dengan bersepeda dan kereta api. Pada waktu itu perguruan harus menyediakan kandang sepeda yang luasnya hampir sama dengan ruang belajar.  Pamong - pamong yang pernah menjadi Ketua Bagian Taman Dewasa antara lain Ki Abu Rachmat, Ki Roesman S, Ki Handriyo, Ki Hadi Asmoro, Ki Subagio Pr, Ki Bambang Sugeng, Ki S Sutikna, Nyi Sri Rejeki Urip Supeno, Ki S Priyono, Ki Y Suripto,Nyi Sumarni S, dan Ki Sugeng Pramono. Sampai dengan dibawah kepemimpinan Nyi Sri Urip Supeno jumlah siswa Taman Dewasa masih cukup banyak. Karena keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) dan kemampuan pemerintah mendirikan SMP negeri maka jumlah siswa Taman Dewasa berangsur - angsur menurun. 

Mulai tahun 2002 Ketua Bagian Taman Dewasa adalah Ki Hendro Widodo, dengan perencanaan, koordinasi, dan pelaksanaan yang baik, secara bertahap jumlah siswa Taman Dewasa bertambah. Hal ini menandakan bahwa Taman Dewasa mendapat kepercayaan yang baik dari masyarakat. Kegiatan - kegiatan ektrakulikuler, pentas seni, dan perlombaan banyak diikuti. Hal ini menunjukkan bahwa Taman Dewasa makin memantapkan eksistensi, peran dan citranya di masyarakat. Dengan terus berkembangnya jumlah siswa dan prestasi akademik serta prestasi kegiatan semoga Taman Dewasa dapat turut mewarnai prestasi Perguruan Tamansiswa Jakarta yang memasuki usianya yang ke 85 tahun. 

© Copyright 2021 TAMAN DEWASA (SMP TAMANSISWA).

Developed by JOGJALAB.COM